Menghitung Kerapatan

Kerapatan seringkali dijadikan sebagai alat analisis dalam menentukan tingkat kepentingan secara spasial. Areal yang memiliki kerapatan tinggi dapat dibedakan dengan areal yang memiliki kerapatan rendah. Analis GIS tentu faham bagaimana melakukan analisis kerapatan. Tulisan ini adalah review singkat bagaimana kerapatan ditentukan dengan GIS.

1. Metode konvensional

Metode konvensional, katakanlah demikian, adalah penentuan kerapatan suatu kejadian tertentu dengan menggunakan areal tertentu sebagai ‘wadah’. Contoh sederhana adalah penentuan jumlah perampokan per kecamatan. Polygon kecamatan dijadikan sebagai wadah untuk menentukan kerapatan kejadian perampokan, sedangkan lokasi (titik) kejadian perampokan adalah kejadian yang dihitung.

Dalam software GIS, pengguna dapat melakukan proses transfer attribute dari polygon kecamatan ke data titik kejadian perampokan, sehingga pada data titik perampokan akan terdapat tambahan FIELD kecamatan. Selanjutnya pengguna GIS dapat melakukan perhitungan kerapatan dengan membagi jumlah kejadian perampokan dengan luas kecamatan sehingga akan diperoleh misalnya kerapatan kejadian perampokan per km2 pada setiap kecamatan.

Data polygon kecamatan seringkali dianggap kurang ‘kecil’ untuk dapat menajamkan hasil analisis. Pengguna dapat menggunakan polygon yang lebih detail dari kecamatan, misalnya data polygon DESA atau jika bisa hingga ke RT/RW, jika ada.

2. Metode GRID

Metode GRID, juga katakan saja demikian, adalah penentuan kerapatan suatu kejadian tertentu dengan menggunakan areal imaginer sebagai ‘wadah’ analisis.  Grid adalah polygon (vektor) yang dibuat dengan ukuran tertentu sesuai dengan kebutuhan analisis dan judgment dari si analis, misalnya 1 km x 1 km.

Sebagai contoh pada kasus kebakaran lahan yang direpresentasikan oleh jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi oleh satelit. Analis GIS dapat melakukan overlay data titik hotspot di atas data grid polygon buatan dengan ukuran setiap polygon 1 km x 1 km. Selanjutnya ID setiap polygon ditransfer ke atribut titik hotspot sehingga dapat dihitung berapa jumlah titik hotspot pada setiap polygon tersebut. Kerapatan dihitung sebagai jumlah titik hotspot dibagi dengan luas grid polygon.

3. Metode Wadah Bervariasi

Metode ini saya namakan demikian dikarenakan belum tahu nama metode ini secara lebih tepat. Jika dengan metode konvensional dan metode GRID suatu ‘wadah’ tidak saling overlap dengan wadah lain, dalam metode “wadah bervariasi” ini dibolehkan saling overlap. Pengguna secara bebas dapat menentukan bentuk dan ukuran wadah. Suatu titik kejadian dapat dihitung lebih dari satu kali oleh ‘wadah’ yang berbeda. Contoh bentuk wadah yang dapat digunakan dapat dilihat pada gambar berikut.

19-42
Wadah (neighborhood) dalam penentuan kerapatan kejadian

Wadah tidak identik dengan satuan anlisis. Ukuran satuan analisis dapat lebih kecil daripada ukuran wadah itu sendiri.

3. Metode statistik

Analis GIS dapat menggunakan metode statistik untuk menghitung kerapatan kejadian per satuan luas. Metode ini, menurut saya, lebih dapat diterima dalam bidang keilmuan dibandingkan dengan metode lainnya. Sebuah fungsi kernel yang terhaluskan yang menggambarkan kerapatan dari fitur (titik atau garis) dibuat sebelum kerapatan dihitung. Kerapatan dihitung dengan menggunkan fungsi kernel tersebut.

Metode mana yang digunakan sangat tergantung kepada kasus yang dihadapi. Have fun.

 

 

 

Leave a Reply