Apa yang Dapat Dilakukan pada Data Hotspot?

Musim kemarau tiba, hatiku gundah kelana. Itu lah kira-kira suasana kebatinan dari setiap RSGISer pada lembaga-lembaga terkait dengan kebakaran lahan. Sudah terbayang harus mengolah data-data hotspot (titik panas/api) yang cukup intens. Tidak saja volume data yang meningkat tetapi juga waktu pengerjaan yang harus singkat.  Data hotspot yang sering digunakan sekarang diturunkan dari citra satelit dengan resolusi temporal sangat tinggi (1-2 pengamatan per hari).

Sekedar review, saya buat tulisan ini untuk menyegarkan kembali rekan-rekan tentang metode-metode apa yang dapat dilakukan pada data hotspot tersebut.

1. Rekap Jumlah

Rekap jumlah data hotspot adalah metode yang paling konvensional. Jumlah hotpost pada hari ini (atau periode waktu tertentu) tinggal di-clip oleh batas-batas interest. Hasilnya adalah jumlah hotspot per kabupaten atau per kecamatan.

hotspot01

Kelebihan metode ini adalah sederhana dan mudah. Bahkan seringkali pengguna tidak perlu melakukan analisis apa pun, cukup menerima data dari provider data hotspot (misal Sipongi KemenLHK) yang sudah memiliki data administrasi Kabupaten, Kecamatan bahkan Desa. Tidak diperlukan kemampuan mengoperasikan software GIS. Bagi pengambil keputusan yang tidak memiliki orientasi spasial, metode ini pun cukup nyaman digunakan. Kekurangan dari pendekatan ini adalah tidak menunjukan secara eksplisit apakah suatu entitas administrasi lebih “gawat” dibandingkan dengan entitas lain. Selain itu juga tidak menunjukan lokus spasial yang spesifik yang dapat digunakan untuk operasional penanggulangan kebakaran lahan.

2. Plotting

Metode ini selangkah lebih maju dibandingkan metode pertama. Setiap hotspot pada periode waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan atau tahunan) diplot dan di overlay dengan data spasial lainnya. Posisi data hotspot dalam koordinat X, Y diplot ke dalam posisi geografis.

Kelebihan cara ini adalah lokus spasial sudah dapat digunakan untuk operasional penanggulangan kebakaran lahan, meskipun dengan kehatian-hatian dengan mempertimbangkan resolusi citra yang digunakan yang dapat mencapai 1 km. Kekurangan cara ini adalah diperlukan operator GIS yang dapat melakukan plotting data hotspot. Lebih utama lagi jika dapat plotting secepat kilat, baik dengan pc atau perangkat mobile untuk plot data harian. Untuk respon emergensi, metoda ini yang paling sesuai. Namun untuk jangka panjang, hasil yang diperoleh tidak lebih dari gerombolan titik yang tidak dapat diinterpretasi secara langsung.

3.Heatmap/Density

Metode ini sudah menambahkan sentuhan analisis pada hotspot. Gerombolan titik hotspot diturunkan menjadi sesuatu yang dapat ditangkap lebih mudah, khususnya bagi pengambil keputusan yang tidak terlalu berorientasi spasial. Dengan heatmap, dapat ditentukan area mana yang lebih gawat dibandingkan dengan yang lain yang pada akhirnya dapat ditentukan area prioritas penangananan. Tentu saja rentang waktu yang digunakan dalam metode heatmap biasanya relatif lebar, misalnya untuk waktu bulanan atau tahunan. Banyak terdapat metode pembuatan heatmap dengan contoh adalah seperti pada tulisan INI.

19-42

4.Heatmap + Temporal

Jika metode heatmap hanya menunjukan pada satu segmen waktu saja, maka metode berikutnya adalah menambah bumbu temporal untuk melihat atau menguji beberapa premis seperti

  • Apakah tingkat heatmap pada suatu bulan/tahun memiliki korelasi dengan heatmap pada bulan/tahun berikutnya?
  • Dalam rentang periode tahun, apakah heatmap memiliki pola pergeseran/pergerakan yang dapat dikorelasikan dengan faktor-faktor penentu, misalnya arah dan kecepatan angin, sosek, geomorphologi, dsb?

Tulisan ini tidak menyarankan untuk selalu menggunakan metode paling canggih. Metode mana yang diambil hendaknya disesuaikan dengan tujuan. Jika si Bos minta rekap jumlah hotpspot per kabupaten, jangan berikan peta heatmap.

Have fun.

Leave a Reply