Seni Memberi Label Garis Kontur pada ArcMap

Label adalah salah satu aspek penting dalam penyajian data. Dalam pemberian label, aspek seni lebih dominan dibandingkan dengan sain, sehingga terkadang bagi para pengguna ArcMap (yang biasanya sebagian besar adalah orang eksakta), pemberian label tidak terlalu menyenangkan. Seringkali pengguna alakadarnya saja memberi label. Asal ada label sudah merasa terpenuhi kewajiban.

Tentu saja hal ini tidak tepat. Jangan lupa bahwa GIS adalah ilmu dan seni. Kita tidak dapat memisahkan kedua hal tersebut. Untuk dapat menyampaikan presentasi yang tepat dan membuat audien mengerti, maka pemberian label yang bagus adalah faktor penting.

Salah satu pelabelan yang cukup pelik adalah memberi label garis kontur. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pemberian label kontur dibahas pada bahasan berikut. Contoh kasus yang digunakan adalah data spasial format shapefile dengan ArcMap 10.4.

1. Garis kontur sudah “bersih”

Garis kontur biasa diturunkan dari data DTM atau bahkan DEM, misalnya SRTM. Prosedur penurunan data kontur dari data DTM sangat riskan menghasilkan data garis kontur yang tidak bersih, yang biasanya memiliki ciri-ciri berikut.

  • Banyak garis kontur yang panjangnya tidak signifikan, misalnya cuma < 100 meter. Lakukan penghilangan garis kontur yang tidak signifikan tersebut dengan memilih garis yang panjangnya lebih kecil dari threshold yang kita gunakan, misalnya di bawah 100 meter.
  • Kontur belum dihaluskan, masih terlihat pola piksel. Smoothing dapat dilakukan untuk menghaluskan garis kontur yang terlihat kotak-kotak.
  • Topology error, misalnya garis sabuk gunung tidak menyatu karena topology tidak dipertahankan.

Jika data yang digunakan adalah data garis kontur dari peta yang memiliki kualitas tampilan bagus, misalnya data kontur RBI, maka garis kontur tidak perlu lagi dilakukan smoothing atau perlakuan lainnya.

2. Tidak semua garis kontur diberi label

Setiap garis kontur memiliki titik tinggi. Namun hendaknya tidak semua garis kontur diberi label. Meskipun jika seluruh garis diberi label tidak salah, tetapi itu tidak bagus. Akan terlihat runyam. Contoh garis kontur yang semua garisnya dilabeli dapat terlihat pada Gb 1 berikut.

kontur-label-01
Gb 1. Contoh garis kontur yang menggunakan seluruh garis dan membiarkan komputer memilih label mana yang ditampilkan

Sebagai contoh untuk peta skala 1:50.000 maka interval garis kontur adalah 25 meter. Kita dapat memberi label kepada garis kontur kelipatan 100 m. Garis kontur yang tidak berada dalam inverval tidak diberi label.

Strateginya, banyak pengguna menggunakan beberapa versi layer garis kontur sesuai dengan interval. Sebagai contoh, kita dapat memiliki layer garis kontur dengan interval 100 m yang terpisah dari garis kontur dengan interval 25 m. Selanjutnya proses pemberian label dilakukan pada garis kontur dengan interval 100 m saja.

Untuk membuat garis kontur baru dengan interval 100 m, atau memberi label pada hanya garis kontur yang “habis jika dibagi seratus”, maka dapat dilakukan querry dengan menggunakan sintak seperti di bawah ini.

kontur-label-02
Gb2. Penggunaan SELECTION/QUERY untuk memilih fitur dengan elevasi kelipatan 100

Pemilihan fitur seperti Gb 2 di atas dapat dilanjutkan dengan membuat fitur baru (garis kontur interval 100 m) dari fitur terpilih. Alternatifnya pengguna dapat cukup membuat kelas pelabelan secara spesifik. Misalnya hanya garis kontur yang memenuhi kriteria selection (Gb2) yang diberi label.

kontur-label-03
Gb 3. Memberi label garis kontur hanya pada kelipatan 100 m

3. Pengaturan label lebih lanjut

Tampak pada Gb 3 bahwa label garis kontur dibuat tersebar. Padahal jika garis kontur yang ditampilkan dibuat “lurus” akan sangat meningkatkan kualitas penyajian. Istilah yang digunakan untuk menempatkan label pada garis relatif lurus menanjak ke arah bukit adalah “laddering”. Masalah lain pada Gb 3 adalah label tidak tepat berada di atas (ON) garis yang dilkatinya. Untuk menunjukan elevasi dari garis kontur, label harus tepat berada di atas garis (dipotong garis). Gb 3 juga masih menunjukan tampilan yang sama antara garis kontur utama (kelipatan 100 m) dengan garis kontur lain. Pengguna harus dapat membedakan garis kontur utama dengan garis lainnya.

Banyak sekali cara yang dapat dilakukan untuk mengatur label lebih lanjut. Cara yang sering saya gunakan adalah dengan menggunakan Maplex Label Engine yang dapat secara otomatis memberi label yang relatif lebih baik. Dengan Maplex Label engine pengguna dapat mengatur posisi label serta posisinya apakah laddering atau tidak.

Untuk membedakan garis kontur kelipatan 100 m dan lainnya, lakukan selection seperti pada Gb 2 untuk memisahkan dua tipe kontur. Buat dan isi field baru misalnya dengan angka 1 untuk kelipatan 100 m dan angka 0 untuk garis kontur lainnya. Selanjutnya atur symbologi untuk dua tipe atribut tersebut. sehingga menghasilkan label dan tampilan garis kontur seperti pada Gb 4 berikut.

kontur-label-05
Gb 4. Penggunaan maplex label engine untuk label garis kontur

4. Label kontur jangan terpanggang oleh garis kontur

Label garis kontur seperti tampak pada Gb 4 tampak “terpanggang” oleh garis kontur. Pengguna ArcMap dapat menempatkan “halo” berwarna tertentu di sekeliling label garis kontur misalnya seperti pada Gambar berikut.

kontur-label-06
Gb 5. Pemberian halo untuk menghilangkan efek overlapping antara label dan garis kontur

Pemberian halo pada label seperti pada Gb 5 hanya dapat menampilkan satu warna saja. Terdapat masalah pada peta-peta dengan cita rasa tinggi yang sering kali menggunakan background gradasi warna tidak seragam misalnya citra satelit atau hillshade.

Untuk membuat “halo” yang transparant dapat dilakukan seperti hasilnya pada Gb 6. Namun cara membuat halo transparan seperti pada Gb 6 tidak dibahas pada tulisan ini. Tunggu pada buku saya selanjutnya saja ya. Tidak perlu semuanya dikeluarkan di posting blog ini.

kontur-label-07
Gb 6. Label garis kontur yang sudah cukup baik

/have fun

SHARE

6 COMMENTS

  1. Pak beny kebetulan saya baru punya buku belajar ArcGis dekstop 10, apa cara pelabelan seperti contoh gbr no 6 itu tidak di bahas pada buku belajar ArcGis dekstop 10 pak? mohon bimbingannya pak.

Leave a Reply