RSGIS Adalah Sain dan Seni

Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM)

Saya selalu mengkampanyekan bahwa Remote Sensing dan Geographic Information System (RSGIS) memiliki aspek seni. Sesuai dengan banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli bahwa kedua disiplin tersebut selain memiliki aspek sain tetapi juga aspek seni. Namun seringkali pengguna RSGIS mengesampingkan, atau paling tidak melupakan aspek seni. Setelah aspek sain terpenuhi dianggap sebuah tugas RSGIS selesai dengan baik.

Pemahaman mengenai dua aspek tersebut, yaitu sain dan seni, seringkali terdistorsi karena proses terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia yang sedikit memiliki arti yang berbeda, terutama pada frasa seni (art). Tatkala saya berbicara menekankan aspek seni dalam RSGIS, maka yang sering muncul di benak lawan bicara saya adalah seni dalam arti sempit, yaitu berekspresi bebas seperti saat melukis atau mengarang. Sehingga aspek seni seringkali diasosiasikan menjadi ‘mengarang bebas’. Karena RSGIS itu adalah juga seni, maka boleh dong kita menggeser-geser gunung dan sungai agar tampilan peta menjadi lebih bagus?

Pengabaian terhadap aspek seni kemungkinan besar juga dipengaruhi oleh latar belakang dari pengguna. Saya yakin mayoritas RSGISer memiliki latar belakang eksakta yang lebih menyukai disiplin-disiplin seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dengan pola pikir eksakta yang kental maka aspek seni akan sering diabaikan dan dianggap remeh temeh.

Salah satu contoh yang baik dalam membedakan aspek sain dan seni adalah dalam hal penyajian luas suatu wilayah. Dengan majunya teknologi komputasi, kita dapat menghitung luas sebuah polygon dalam beberapa digit di belakang koma misalnya seluas 1.245,1024578 meter persegi. Itu lah output dari aspek sain dalam RSGIS. Namun saat kita akan menuliskan luas tersebut kita berhadapan dengan aspek seni. Apakah akan menuliskan dengan 1.245 m2, 1.245,10 m2, 0,1245 Ha, 0,12 Ha atau angka yang lainnya? Angka berapa yang dapat mudah dipahami oleh audien/pengambil keputusan?

Pemahaman saya terhadap aspek seni dalam RSGIS dapat dijabarkan ke dalam beberapa point-point sebagai berikut.

1. Memiliki pilihan tak terbatas

Pengguna RSGIS seringkali kebingungan bagaimana menyikapi banyak hal. Misalnya bagaimana menampilkan warna jalan apakah merah darah, merah muda, kuning tua, atau hitam? Jika pada umumnya warna asli jalan adalah hitam (aspal), maka yang paling tepat untuk mewakili fitur jalan adalah warna hitam. Namun tunggu dulu, biasanya ‘kan jalan diberi warna merah? Ah, tidak juga ada juga yang menggunakan warna coklat muda.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sudah sangat lumrah berada di benak pengguna RSGIS. Meskipun pada pemberian warna umumnya mengikuti kenampakan aslinya (air warna biru, hutan warna hijau, dsb), tetapi pada prinsipnya aspek seni dalam RSGIS memberikan pilihan tidak terbatas. Lihat saja, bagaimana penalarannya fitur jalan ditampilkan dengan warna putih pada peta GoogleMap Gambar 1 berikut?

aspek-seni-rsgis-01
Gb 1. Fitur Jalan Ditampilkan dalam Warna Coklat Muda dan Putih

Pada analisis pun sama saja. Tentu kita tahu kriteria untuk menentukan fungsi kawasan hutan. Bagaimana faktor curah hujan, kelerengan, dan jenis tanah dijadikan parameter dalam penentuan tersebut? Bagaimana pembobotan di dalam setiap kelas ditentukan? Jawabannya adalah dengan seni. Bolehkan saya menambahkan satu lagi faktor misalnya elevasi? Tentu boleh-boleh saja sepanjang dapat menunjukan justifikasi bahwa faktor tersebut layak masuk dalam rumus. Pembobotan pada setiap parameter pun memiliki kemungkinan yang banyak, misalnya setiap faktor diberi bobot 1/3 atau salah satu faktor diberi 1/2 dan sisanya dua faktor diberi bobot 1/4. Seni memberikan pilihan kemungkinan yang hampir tidak terbatas dalam RSGIS.

2. Bersifat Subyektif dan Tidak Universal

Banyak hal yang bersifat subyektif dalam RSGIS. Bahasan pada Point 1 dapat juga dijadikan contoh bagaimana pemilihan warna fitur pada peta hanya dapat dinilai dengan subyektifitas, tergantung kepada bagaimana cara pandang. Tidak ada aturan universal yang ilmiah yang dapat digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan aspek seni dalam RSGIS.

Jika satu ditambah satu hasilnya adalah dua, maka dalam aspek seni tidak terdapat aturan universal bagaimana angka satu dan dua tersebut ditulis, apakah tegak, bold, miring, besar, kecil, hitam, biru, dan sebagainya. Sepanjang sama-sama menunjukan satu ditambah satu maka sudah dapat diterima secara sain.

Mengapa penentuan kriteria fungsi kawasan hutan hanya memiliki tiga paramater? Mengapa ahli A memberi bobot sekian tetapi ahli B memberi bobot berbeda dengan ahli B? Mengapa jalan pada RBI ditampilkan dengan warna kemerahan/coklat sedangkan pada GooglMap banyak jalan ditampilkan dengan warna putih? Setiap pihak dapat memiliki penilaian sendiri mengenai apa yang baik dan pantas dalam aspek seni dalam RSGIS.

3. Seni untuk Mencapai Tujuan

Masih ingat di benak saya saat melakukan presentasi ujian akhir skripsi tahun 2002 yang lalu, ditanya oleh salah seorang dosen saya, Mengapa Menggunakan Model Distribusi Weibull 2 Parameter, bukan 3 Parameter? Jujur saya tidak bisa menjawab. Untunglah dosen pembimbing utama membantu saya menjelaskan dengan meminta saya menuliskan tiga huruf dalam bahasa Inggris di papan tulis. Dengan cengar-cengir karena bahasa Inggris saya buruk, akhirnya saya dapat menuliskannya… serves the purpose. Itulah jawaban mengapa memilih 2 parameter daripada 3 parameter. Sampai sekarang, tiga kata magis tersebut selalu saya jadikan dasar dalam aspek seni pada hampir semua hal termasuk dalam RSGIS.

Jika ada kawan di kantor yang membuat sebuah peta untuk keperluan navigasi di lapangan, sy selalu minta untuk tidak membuat kolom tanda tangan, riwayat peta, judul dan sebagainya. Untuk apa capek2 membuat peta yang lengkap jika akan digunakan untuk navigasi? Lebih baik energi kita gunakan untuk membuat rencana titik2 singgah, lokasi rumah makan, warung si tante, SPBU, dan sebagainya. Pada kasus lain mungkin kita juga memerlukan sebuah peta untuk pemeriksaan lapangan terkait aspek hukum. Pada kasus ini peta yang kita buat dan bawa ke lapangan sebaiknya tidak ada informasi apa pun termasuk legenda dan skala. Cukup data frame tanpa elemen peta lainnya untuk meminimalkan dampak jika peta tersebut tercecer dan berpindah tangan ke pihak lain.

Sebelum kita melakukan atau memilih ini dan itu dalam aspek seni RSGIS, terlebih dahulu kita harus memahami apa tujuan yang ingin dicapai? Ingin mengembangkan sebuah WebGIS untuk apa? Ingin mengembangkan sebuah database spasial untuk apa? Jika tujuannya sudah dipahami, maka aspek seni dapat dieksplore dengan lebih baik dan tetap ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

4. Memformalkan Seni dalam RSGIS

Aspek seni dalam RSGIS memiliki kemungkinan tidak terbatas, bersifat subyektif dan tidak universal, serta sepanjang memenuhi aspek sain dan memenuhi tujuan maka pengguna RSGIS bebas melakukan apa pun. Namun meskipun hal tersebut tidak dapat dibantah, tetapi kita sadar bahwa akan terdapat banyak sekali masalah karena terlalu banyak variasi sebagai akibat aspek seni ini.

Dalam hal menyajikan Peta Dasa, misalnya, Badan Informasi Geospasial (BIG) telah membuat suatu pedoman dengan Peraturan Kepala BIG Nomor 3 Tahun 2016 tentang Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa. Di dalam peraturan tersebut sudah tercantum bagaimana mengatur symbology, label, ukuran, skala dan sebagainya. Serupa juga dalam hal penentuan fungsi kawasan HL, HPT atau HP yang telah diformalkan ke dalam sebuah aturan yaitu Peraturan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/80. Masih banyak lagi contoh-contoh bagaimana aspek seni diformalkan ke dalam bentuk aturan atau petunjuk teknis.

peta-desa01
Gb 2. Simbology Peta Desa tipe Marker

Dalam menyikapi aspek seni yang telah diformalkan, maka tentu kita harus mengambil sikap untuk mengikuti aspek formal tersebut terutama dalam operasional sehari-hari. Jika telah ditentukan spesifikasi Peta Desa adalah skala 1:10.000, maka tidak baik jika kita membuat peta dengan skala 1:9.000. Secara sain kita tidak melakukan kesalahan jika membuat peta skala berbeda, tetapi karena ada aspek seni yang sudah diformalkan ke dalam sebuah aturan, maka kita harus mengikuti untuk membuat skala yang sama.

Kasus berbeda terjadi jika apa yang kita lakukan adalah murni untuk pengembangan sain itu sendiri, misalnya dalam kajian atau penelitian. Dalam sebuah penelitian dengan tujuan untuk mencari parameter dan bobot yang terbaik untuk penentuan fungsi kawasan hutan, maka Peraturan Mentan No. 837/Kpts/Um/11/80 dapat diabaikan karena output dari penelitian tersebut tentu akan mengubah isi dari peraturan tersebut bukan?

Dalam RSGIS, sain memberikan nilai benar-salah yang obyektif, sedangkan seni memberikan nilai bagus-jelek yang sifatnya subyektif. Kombinasi sain dan seni tentu berbeda-beda tergantung tujuan dan tipe tugas RSGIS. Pada suatu tugas RSGIS bisa saja aspek sain lebih dominan, tetapi pada tugas lainnya aspek seni lebih dominan.

Yang ingin digarisbawahi pada tulisan ini adalah agar aspek seni dapat memiliki porsi yang sesuai dalam RSGIS. Sehingga pertama, jika sudah ada common sense atas suatu hal maka ikutilah. Tidak perlu berekspresi sebebas-bebasnya. Serta kedua jika tidak ada panduan maka berekspresilah. Jangan sampai sebuah tugas RSGIS terhenti karena menunggu aturan yang belum tersedia.

/have fun

SHARE

3 COMMENTS

  1. trima kasih mas sebelumnya, mau ty ni ..bagaimana cara memperoleh simbol-simbol yang ada pada aturan BIG Nomor 3 Tahun 2016 pada arcgisnya mas

Leave a Reply